
Konflik PBNU : Historisitas, Oposisi Etik dan Integrasi Kekuasaan.
Perselisihan internal dalam tubuh Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) bukanlah anomali dalam sejarah NU. Sejak berdiri 1926, jam’iyah NU mengalami berbagai ketegangan internal yang justru sering menjadi mekanisme penyesuaian organisasi.
Akan tetapi, kemelut Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode sekarang (2024–2025) memperlihatkan karakter yang berbeda dari konflik-konflik sebelumnya, khususnya jika dibandingkan dengan era Gus Dur (1984–1999). Perbedaan ini terletak bukan hanya pada aktor dan isu, melainkan pada struktur kekuasaan dan orientasi politik NU itu sendiri¹.
Konflik NU Era Gus Dur, Kritik Dari Pinggiran Kekuasaan
- Konteks Politik dan Posisi NU
Pada era Gus Dur, NU berada dalam posisi oposisi kultural terhadap negara Orde Baru. Konflik internal NU—misalnya resistensi terhadap agenda pembaruan pemikiran dan keputusan kembali ke Khittah 1926—terjadi dalam konteks NU yang relatif berjarak dari kekuasaan formal². Kritik terhadap Gus Dur datang dari kalangan kiai sepuh, tetapi tetap berada dalam bingkai etika kultural dan tidak melibatkan mekanisme sanksi struktural yang keras.
- Legitimasi Kharisma
Kepemimpinan Gus Dur bertumpu pada legitimasi karismatik-intelektual. Meskipun sering menuai kontroversi, otoritas moralnya diakui luas, bahkan oleh para pengkritiknya. Konflik yang muncul lebih bersifat diskursif—perdebatan gagasan—bukan konflik administratif³.
Kemelut PBNU 2024–2025 Konflik
di Pusat Kekuasaan
- NU Sebagai Aktor Kekuasaan
Berbeda dengan era Gus Dur, PBNU kontemporer beroperasi dalam situasi di mana NU menjadi aktor penting dalam orbit kekuasaan negara. Di bawah kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf, PBNU menampilkan wajah organisasi yang mapan secara struktural dan dekat dengan pusat kekuasaan. Konflik internal pun tidak lagi terjadi di pinggiran, melainkan di jantung organisasi⁴.
- Dominasi Legitimasi Legal-Rasional
Kemelut mutakhir ditandai oleh dominasi legitimasi legal-rasional: SK, struktur, dan garis komando. Kritik kultural dari pesantren sering kali tidak berbanding lurus dengan pengaruh struktural. Akibatnya, konflik menjadi asimetris—struktur kuat secara administratif, tetapi rentan secara kultural.
Kontinuitas Dan Diskontinuitas
Kontinuitas
Baik pada era Gus Dur maupun periode mutakhir, konflik NU sama-sama berakar pada ketegangan antara pembaruan dan tradisi. Selain itu, pesantren tetap menjadi sumber legitimasi simbolik utama NU⁵.
Diskontinuitas
Perbedaan mendasar terletak pada relasi NU dengan negara dan bentuk konflik. Pada era Gus Dur, konflik berlangsung dalam konteks NU yang mengkritik kekuasaan. Pada periode 2024–2025, konflik berlangsung ketika NU justru berada di dalam orbit kekuasaan. Hal ini mengubah watak konflik dari dialektika gagasan menjadi krisis legitimasi struktural⁶.
Analisis Politik-Kultural Kritis
Secara politik-kultural, kemelut PBNU mutakhir dapat dibaca sebagai pergeseran dari NU sebagai gerakan moral menuju NU sebagai institusi kekuasaan. Jika pada era Gus Dur konflik justru memperkuat identitas kritis NU, pada periode sekarang konflik berpotensi melemahkan otoritas moral NU akibat persepsi kooptasi politik.
Dalam istilah Gramsci, NU era Gus Dur berhasil memelihara hegemoni kultural, sementara PBNU kontemporer masih berjuang memperoleh persetujuan kultural atas hegemoni strukturalnya⁷.
Implikasi Historis Dan Tantangan Ke Depan
Perbandingan ini menunjukkan bahwa kemelut PBNU tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan administratif. Sejarah NU era Gus Dur memberikan pelajaran bahwa konflik internal justru dapat produktif bila dikelola melalui etika kultural, keterbukaan wacana, dan jarak kritis dari kekuasaan negara.
Tulisan ini hendak menganalisa kemelut internal (PBNU) periode 2024–2025 melalui perbandingan historis dengan perselisihan-perselisihan NU pada masa kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dengan pendekatan historiografi dan sosiologis, tentu tulisan ini menggambarkan bahwa meski friksi merupakan fenomena berulang dalam tubuh NU, terdapat pergeseran signifikan dalam pola konflik, sumber legitimasi, dan relasi NU dengan negara. Perbandingan ini menegaskan bahwa kemelut PBNU mutakhir menandai krisis politik-kultural yang lebih dalam dibanding konflik era Gus Dur.
Ala kulli hal, perselisihan PBNU 2024–2025 menandai fase historis yang berbeda dari konflik NU era Gus Dur. Jika konflik era Gus Dur berlangsung dalam konteks oposisi moral. Konflik mutakhir berlangsung dalam konteks integrasi kekuasaan. Perbedaan ini menjadikan kemelut PBNU saat ini lebih berisiko secara kultural. Tanpa refleksi historis dan koreksi etis, NU berpotensi kehilangan modal simboliknya sebagai penyangga Islam moderat dan kekuatan masyarakat sipil.[].
Bahan Bacaan :
- Ahmad Baso, NU Studies: Pergolakan Pemikiran Tradisionalisme Islam, Jakarta: Erlangga, 2006.
- Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama, Yogyakarta: LKiS, 1998.
- Martin van Bruinessen, Traditionalist Muslims in a Modernizing World, Singapore: ISEAS, 2014.
- Greg Fealy & Robin Bush, NU dan Negara di Indonesia Kontemporer, Jakarta: LP3ES, 2014.
- Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Jakarta: LP3ES, edisi revisi.
- Robert W. Hefner, Civil Islam, Princeton: Princeton University Press, 2000.
- Antonio Gramsci, Selections from the Prison Notebooks, New York: International Publishers, 1971.
Penulis : KH. Asep Usman Rosadi ( Pimpinan PP Cijawura Kota Bandung).
Redaksi
26 Nov 2025
Dalam sejarah Intelektual klasik Islam, ada dua nama tokoh terkemuka yang menguncang khasanah kesarjanaan Islam baik di timur maupun di barat, yaitu Imam Ghazali (450–505 H) dan Ibnu Rusyd (520–595 H), mereka berdua sering diposisikan sebagai sosok yang mewakili dua arus pemikiran berbeda : spiritualitas dan rasionalitas, tasawuf dan filsafat, bahasa lainnya hati dan akal. …
Redaksi
23 Nov 2025
Kemelut yang terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada masa sekarang tahun 2025, bukanlah peristiwa pertama dalam sejarah perjalanan organisasi ini. NU sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia dengan ratusan jutaan warga dan ribuan pesantren tentu tidak luput dari dinamika internal, perbedaan pendapat, atau ketegangan antar-elitis. Dalam organisasi besar, gesekan adalah sesuatu yang …
Redaksi
14 Nov 2025
Sebelum membicarakan pemikiran Ibnu Rusyd atau Averoes di dunia Barat biasa disebut, terlebih dahulu mengetahui historiografi atau latar belakang Ibnu Rusyd dan aktivitas intelektualnya, berdasarkan sumber-sumber primer yang saya baca, ini cukup penting diketahui. Nama lengkap Ibnu Rusyd adalah Abu al-Walid Muhammad bin Muhammad bin Rusyd lahir di Cordoba pada tahun 520 H/1126 M, di …
Redaksi
31 Okt 2025
Majalah The Economist memuat kata tahunan pada tahun 2024 lalu, sangat menarik. Laporan itu memilih frasa “kakistokrasi” untuk menggambarkan kemenangan Donald Trump yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. Kembalinya Trump ke Gedung Putih menurut laporan The Economist itu membawa pada konsekuensi penting, bukan saja bagi negara adikuasa itu sendiri, akan tetapi bagi negara tetangga dan …
Redaksi
28 Okt 2025
Absenya Etika dalam Politik Kita Dalam refleksinya Kiai Asep Cijawura merenungkan persoalan mendasar tentang masalah umat sekarang. Yaitu terjadinya krisis moral yang mengakibatkan problem pada kehidupan umat, dan berdampak melahirkan gap dalam segala multidimensi, terutama minat terhadap keilmuan dan kecakapan ekonomi yang mandiri jauh tertinggal. Sebagaimana ulama-ulama pembaharu dahulu Kiai Asep juga berpendapat, pangkalnya ada …
Redaksi
24 Okt 2025
Membincang tentang etika (akhlak), pembaharuan, dan kemandirian jadi percakapan rutin Kiai Asep Cijawura (begitu biasa saya menyebut) K.H.M. Asep Usman Rosadi (Pimpinan Pondok Pesantren Cijawura Kota Bandung). Tiga topik yang ditawarkan Kiai Asep tidak saja deskriptif, tetapi sekaligus perspektif sebagai falsafah hidup kesehariannya baik di lingkungan Pesantren maupun jamaahnya. Lanskap ide-ide tersebut juga sangat menarik …
17 Nov 2025 171 views
Bandung, lingkupminds.com – Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Gegerkalong Kecamatan Sukasari Kota Bandung, KMNU UPI dan Majelis Aswaja Movement menggelar “Kajian Aswaja An-Nahdliyah” di Masjid At-Taufiq Gegerkalong Tengah, Minggu (16/11/2025) siang. Kajian pada kali ini mengambil tema “Memahami Qanun Asasi NU” dengan narasumber Wakil Rois Syuriah PCNU Kota Bandung K.H.M. Asep Usman Rosadi. Tampak hadir …
26 Mar 2025 560 views
Bandung,lingkupminds.com – Pondok Pesantren Margasari Cijawura, Kota Bandung, menggelar Haul ke-35 K.H.R. Moch. Burhan atau Apa Eyang Rabu (26/3/2024) / Malam 27 Ramadan 1446 H. Acara tersebut mengangkat tema “Perjuangan dan Keteladanan.“ Cucu K.H.R Moch.Burhan, yaitu K.H.M. Asep Usman Rosadi menjelaskan bahwa tema tersebut mencerminkan pesan utama Apa Eyang, meletakan spirit perjuangan dan meneladani aspek-aspek …
10 Apr 2025 462 views
Empat dekade bukan sekadar hitungan usia. Bagi Lakpesdam NU, ini adalah cermin perjalanan panjang, dari sekadar pelengkap struktural menjadi nadi peradaban, dari ruang-ruang diskusi hingga menyentuh denyut masyarakat. Sebagai bagian dari keluarga besar Lakpesdam, saya merasa terpanggil untuk merefleksikan titik ini, adalah sebuah momentum penting dalam upaya menegaskan kembali posisi Lakpesdam sebagai Badan Perencanaan Strategis …
18 Mar 2025 543 views
Ramadan adalah bulan diturunkan Al-Quran atau Nuzulul Quran, ayat pertama kali turun adalah “Iqra” atau membaca, ayat ini terdapat dalam permulaan surat Al-’Alaq, surat yang diturunkan pertama kali di Mekah kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu apa yang harus dibaca ( maa ana bi qari) ? yang harus dibaca adalah pencipta (Khaliq) dan ciptaan (makhluk). اقْرَأْ …
07 Feb 2024 542 views
Putra mahkota Saudi berencana membahas pengurangan jam puasa bagi umat Islam selama Ramadan. Namun, Komite Fatwa Pemerintah Daerah di Kurdistan mengatakan tidak bisa untuk mengikuti keputusan politik tentang puasa. Di sisi lain, mantan direktur Kementerian Agama mengatakan kepada VOA bahwa jika Arab Saudi membuat keputusan seperti itu, yang lain harus mempertimbangkan untuk mengikutinya, karena Arab …
21 Mei 2025 465 views
Bulan Dzulhijjah merupakan penanda adanya bulan Haji, untuk itu kaum muslimin dari kalangan yang mampu (istatho’a), baik mampu secara fisik, syariat dan finansial, di bulan haji mereka antusias berbondong-bondong untuk menunaikan rukun Islam ke-5 tersebut, tak terkecuali umat Islam di Indonesia, hatta jauh-jauh hari mereka menabung uang untuk beribadah haji ke tanah suci Makkah Arab …
23 Nov 2025 196 views
Kemelut yang terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada masa sekarang tahun 2025, bukanlah peristiwa pertama dalam sejarah perjalanan organisasi ini. NU sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia dengan ratusan jutaan warga dan ribuan pesantren tentu tidak luput dari dinamika internal, perbedaan pendapat, atau ketegangan antar-elitis. Dalam organisasi besar, gesekan adalah sesuatu yang …
Comments are not available at the moment.